Evakuasi di Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo, 61 Korban Meninggal dan Puluhan Santri Ditemukan di Reruntuhan

Pesantren Al Khoziny Sidoarjo, 61 Korban Meninggal dan Puluhan Santri Ditemukan di Reruntuhan

Sidoarjo, 8 Oktober 2025 — Operasi pencarian korban ambruknya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo resmi berakhir Selasa (7/10/2025) setelah seluruh korban yang dilaporkan hilang berhasil ditemukan. Data BNPB mencatat 61 orang meninggal dunia dan 104 santri berhasil diselamatkan dari insiden yang terjadi Senin sore (29/9/2025) sekitar pukul 15.30 WIB, ketika para santri tengah melaksanakan salat Ashar berjemaah di musholla dua lantai yang baru selesai direnovasi.

Saksi mata menyebut lantai atas musholla mendadak retak sebelum akhirnya ambruk menimpa lantai di bawahnya. Ratusan santri yang berada di dalam berlarian mencari jalan keluar, sementara sebagian lainnya tertimbun reruntuhan beton. Dalam hitungan detik, suasana tenang berubah menjadi kepanikan. Beberapa santri berhasil menyelamatkan diri melalui jendela dan pintu samping, namun puluhan lainnya terjebak di bawah puing berat yang menutupi hampir seluruh ruang utama musholla.

Sejak hari pertama, tim SAR gabungan Basarnas, BNPB, dan TNI-Polri langsung melakukan pencarian. Kepala Basarnas Surabaya Hari Adi Purnomo mengatakan bahwa proses evakuasi dilakukan sangat hati-hati karena struktur bangunan masih labil. “Kami menggali dengan tangan kosong, linggis, dan alat ringan. Penggunaan alat berat kami tunda sampai kondisi dinilai aman,” ujarnya dikutip dari Detik News. Di tahap awal, petugas membagi lokasi menjadi beberapa sektor untuk mempermudah pencarian korban yang tertimbun di area tengah musholla.

Menurut laporan Reuters, petugas menggunakan kombinasi metode manual dan tunneling, yaitu membuat lorong kecil di antara puing agar bisa menjangkau ruang kosong di bawah lantai. Sensor panas dan alat pendeteksi getaran turut digunakan untuk mencari tanda-tanda kehidupan. Beberapa korban yang masih hidup sempat diberi oksigen dan air melalui selang kecil sebelum berhasil dievakuasi. “Kami mendengar suara ketukan dari dalam puing, lalu menggali dari sisi timur. Dua santri kami temukan dalam kondisi hidup,” kata salah seorang anggota tim SAR.

Selama empat hari pertama, evakuasi berlangsung siang dan malam. Tim teknik dari Kementerian PUPR membantu memantau kestabilan beton agar proses pengangkatan material tidak menimbulkan runtuhan susulan. Pada Jumat (3/10/2025), sebagian besar area sudah bisa dijangkau, dan puluhan kantong jenazah berhasil dievakuasi. “Kami tetap berharap menemukan korban hidup, meski waktu terus berjalan,” kata Kepala BNPB Letjen Suharyanto di sela konferensi pers. Namun hingga Sabtu malam (4/10), tidak ada lagi sinyal kehidupan yang terdeteksi. Operasi pun bergeser dari fase penyelamatan ke pemulihan jenazah.

Pada Selasa (7/10) pagi, operasi resmi ditutup setelah seluruh korban ditemukan. Dari 61 korban, 17 jenazah telah diidentifikasi oleh tim DVI Polri melalui pemeriksaan DNA. Sebagian besar korban mengalami luka berat akibat tertimpa balok cor, dan tujuh potongan tubuh ditemukan terpisah di antara reruntuhan. “Kami serahkan seluruh korban kepada keluarga setelah proses identifikasi selesai,” kata Plt Kepala Pusat Data BNPB Abdul Muhari dalam keterangan tertulis.

Pasca-evakuasi, lokasi tragedi langsung ditutup untuk penyelidikan. Kapolres Sidoarjo AKBP Edo Setyo Kentriko memastikan penyidikan masih berlangsung. Polisi telah memeriksa pengurus pondok, kontraktor proyek, dan sejumlah pekerja. “Ada indikasi kuat bahwa cor beton belum sepenuhnya kering ketika bangunan digunakan,” ujarnya kepada CNA Indonesia. Dugaan sementara mengarah pada kegagalan struktur akibat pelanggaran standar SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton bangunan gedung.

Pakar teknik sipil ITB Heri Suprayitno mengatakan tragedi ini memperlihatkan lemahnya pengawasan proyek bangunan pendidikan di Indonesia. “Kelemahan sistemik ada di tahap renovasi. Banyak bangunan tambahan tidak dihitung ulang beban struktur pondasinya,” ujarnya dikutip dari ABC Australia. Ia menegaskan, setiap pembangunan lantai baru wajib diaudit sebelum difungsikan. “Kalau pondasi tidak diperkuat, konsekuensinya fatal,” tambahny.

Kini, pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama Kementerian PUPR tengah melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh pondok pesantren di wilayah tersebut. BNPB juga menyiapkan tim psikolog untuk memberikan pendampingan bagi santri yang selamat. Tragedi di musholla Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo menjadi peringatan keras bahwa keselamatan bangunan pendidikan tidak boleh diabaikan. Setiap renovasi harus tunduk pada standar teknis, bukan sekadar keinginan memperluas ruang ibadah.

Referensi:
BNPB.go.id | Detik News | Tempo | Reuters | AP News | CNA Indonesia | ABC Australia

Konten di atas adalah iklan pihak ketiga. ZalalenA Creative tidak terlibat dalam pembuatannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post

Ikuti Channel Telegram kami

Akses artikel terbaru setiap hari, langsung ke ponsel Anda.