
Zalalena News – Banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 23 hingga 26 November 2025 di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyebabkan kerusakan luas di sepanjang kawasan pegunungan Bukit Barisan. Dalam laporan resmi BNPB pada 26 November 2025, tercatat 174 korban meninggal dunia, 79 orang hilang, dan ribuan warga mengungsi. Hujan berintensitas tinggi sejak 23 November membuat sungai-sungai besar meluap secara tiba-tiba dan membawa material lumpur, batu, serta kayu ke permukiman yang berada di dataran rendah. Banyak akses jalan terputus, termasuk beberapa jembatan yang rusak akibat tekanan arus dan longsoran dari lereng bukit.
Liputan6 pada 26 November 2025 melaporkan bahwa banjir bandang melanda wilayah Aceh Singkil, Aceh Selatan, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan sebagian kawasan Tanah Datar serta Agam. Sementara Detik pada tanggal yang sama menuliskan bahwa sebagian besar desa yang rusak berada di sepanjang aliran sungai dan lereng-lereng dengan tanah labil. Reuters pada 24 November menggambarkan bagaimana hujan intensitas tinggi selama beberapa hari memicu aliran lumpur dari pegunungan di Sumatra bagian utara. Associated Press pada 25 November menambahkan bahwa longsor memperparah keadaan, terutama di Mandailing Natal dan Tapanuli, sehingga proses evakuasi memerlukan waktu lebih panjang.
Di tengah data korban dan kerusakan, beredar sejumlah rekaman warga yang memperlihatkan masjid yang terlihat tetap berdiri meski banjir melanda area sekitarnya. Salah satu rekaman diambil pada 24 November dari kawasan Stabat, Kabupaten Langkat. Dalam video itu, halaman masjid tergenang setinggi lutut orang dewasa, tetapi lantai bagian dalam masih kering. Rekaman lain dari Tanah Datar juga menampilkan masjid yang tampak utuh pada bagian luar, sementara rumah-rumah kecil di sekitarnya mengalami kerusakan akibat aliran banjir bandang. Kumpulan rekaman semacam ini kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai apakah benar masjid di beberapa area benar-benar Selamat dari Banjir Bandang Sumatra 2025?
Penelusuran terhadap laporan resmi BNPB, BPBD, dan pernyataan pemerintah daerah hingga 27 November 2025 tidak menemukan catatan yang menyebutkan masjid tertentu sebagai bangunan yang sepenuhnya tidak terdampak. Tidak ada daftar resmi nama masjid dengan status “tidak rusak”. Namun Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada 25–27 November mengeluarkan imbauan agar masjid-masjid di wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar dibuka sebagai tempat pengungsian. Imbauan ini menunjukkan bahwa sebagian masjid masih dapat digunakan masyarakat, setidaknya sebagai lokasi berteduh sementara, tetapi bukan berarti bangunan tersebut tidak mengalami dampak apa pun.
Selain data teknis dari lembaga resmi, sebagian masyarakat di sejumlah wilayah juga menafsirkan fenomena masjid yang masih berdiri sebagai bagian dari perlindungan ilahi. Penafsiran ini muncul dalam percakapan warga di lokasi terdampak serta dalam komentar-komentar publik di media sosial. Dalam pandangan mereka, kondisi masjid yang tampak tetap utuh dianggap sebagai bentuk penjagaan dari Tuhan di tengah bencana yang merusak bangunan lain. Penafsiran ini berkembang sebagai bagian dari respons keagamaan warga terhadap bencana, meskipun tidak terdapat pernyataan resmi yang mengonfirmasi pandangan tersebut. Kehadiran pandangan non-teknis ini menjadi salah satu lapisan persepsi masyarakat yang menyertai fakta-fakta fisik di lapangan.
Dari sisi lokasi bangunan, banyak masjid di desa maupun kecamatan ditempatkan pada kawasan yang memiliki elevasi lebih tinggi dibanding rumah warga. Lantainya cenderung berada beberapa puluh sentimeter di atas permukaan jalan. Keadaan ini terlihat pada rekaman dari Stabat, di mana air menggenang di halaman tetapi belum mencapai ambang pintu masjid. Elevasi lantai menjadi faktor utama yang membuat masjid tampak tidak tergenang meski wilayah sekitarnya terendam. Penempatan masjid di titik pusat desa—biasanya dekat jalan atau area yang dianggap aman dari banjir musiman—membuat bangunan ini relatif lebih terlindung dibanding beberapa rumah warga.
Faktor struktur bangunan juga berpengaruh. Masjid umumnya dibangun menggunakan pondasi beton bertulang, kolom besar, dan dinding yang lebih tebal. Pada saat banjir bandang membawa material berat, bangunan dengan konstruksi semacam ini memiliki peluang lebih besar untuk tetap berdiri. Sementara banyak rumah warga di daerah pedesaan masih menggunakan dinding ringan dan fondasi dangkal yang lebih mudah terdorong atau rusak ketika tekanan arus meningkat. Kondisi ini terlihat pada sejumlah dokumentasi warga dari Tanah Datar, di mana rumah kecil rusak pada bagian dinding dan teras, tetapi masjid di dekatnya masih berdiri.
Walaupun beberapa masjid selamat dari banjir bandang Sumatra 2025 dalam rekaman warga, namun tidak semua masjid di wilayah bencana berada dalam kondisi yang sama. Sejumlah laporan BPBD di tingkat kabupaten menyebutkan adanya masjid yang terdampak banjir, terutama yang berada dekat bantaran sungai atau berada pada posisi yang lebih rendah dari permukaan jalan. Namun laporan tersebut berisi data umum mengenai bangunan rusak tanpa merinci identitas masjid secara khusus. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi bangunan ibadah sangat bergantung pada posisi dan struktur bangunan, bukan pada fenomena yang berlaku secara merata di seluruh wilayah.
Penyebaran video di media sosial turut membentuk persepsi publik mengenai kondisi masjid selama bencana. Rekaman masjid yang terlihat kokoh lebih cepat menyebar dan lebih banyak diulang dibanding video bangunan lain yang juga tetap berdiri. Beberapa video yang tidak memiliki informasi lokasi dan tanggal juga ikut beredar dan disalahartikan sebagai bagian dari kejadian yang sama. Pola penyebaran seperti ini membuat publik lebih sering melihat masjid yang selamat, padahal dokumentasi bangunan lain yang masih utuh mungkin tidak ikut muncul dalam arus viral.
Hingga akhir November 2025, informasi yang dapat diverifikasi secara resmi menunjukkan bahwa masjid-masjid di Aceh, Sumut, dan Sumbar yang digunakan sebagai tempat pengungsian adalah bangunan yang dinilai cukup aman untuk menampung warga, tetapi tidak ada data yang menyatakan bahwa bangunan tersebut tidak terdampak sama sekali. Masjid yang tampak masih berdiri kemungkinan besar berada pada area lebih tinggi, memiliki struktur lebih kuat, atau berada di luar jalur utama aliran banjir bandang. Fenomena ini menunjukkan variasi kondisi bangunan di lapangan yang dipengaruhi banyak faktor fisik dan teknis, serta disertai beragam penafsiran masyarakat terhadapnya.
Pada akhirnya, bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November ini menunjukkan pentingnya ketahanan bangunan di wilayah rawan banjir bandang dan longsor. Baik masjid, rumah warga, sekolah, maupun fasilitas umum lainnya memerlukan perencanaan yang mempertimbangkan risiko bencana. Pemahaman yang lebih jelas mengenai faktor-faktor penyebab bangunan bertahan akan membantu proses rekonstruksi berjalan lebih tepat, sekaligus memberikan gambaran utuh mengenai dinamika di lapangan selama bencana berlangsung.